Naskah Khutbah Jum’at 3 April 2026 – Surat Al-Qariah (Hari Kiamat)

Naskah Khutbah Jum’at 3 April 2026 – Surat Al-Qariah (Hari Kiamat)

Jumat 3 April 2026 M / 14 Syawal 1447 H

Masjid Mush’ab bin ‘Umair

Naskah khutbah jumat

Khatib Ustadz Ainul hamro’, Lc. M.A

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ ونَسْتَعِينُهُ، ونَسْتَغْفِرُهُ ونَتُوبُ إِلَيه، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، ومَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد:

Saya berwasiat kepada Anda sekalian dan kepada diri saya sendiri untuk bertakwa kepada Allah. Maka bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan menjaga Anda. Ingatlah Dia, niscaya Dia akan mengingat Anda. Dan bersyukurlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menambah (nikmat-Nya) kepada Anda.

واتَّقُوا اللهَ واعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شديدُ العقاب

Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya).

Wahai hamba-hamba Allah: Sungguh, ini adalah pembukaan yang sangat menakutkan dan menggetarkan! Sebuah permulaan yang menggelegar dan dahsyat, serta membangkitkan rasa ingin tahu tentang apa yang akan diberitakan selanjutnya; yaitu pembukaan dengan lafaz “Al-Qari’ah”, di dalam Surah Al-Qari’ah!

Dan القَارِعَةُ (Hari Kiamat yang menggetarkan) adalah salah satu nama Hari Kiamat. Dinamakan demikian karena ia menggetarkan (mengetuk keras) hati manusia dengan kedahsyatannya. Oleh karena itu, Allah mengagungkan dan membesarkan perkaranya dengan firman-Nya: الْقَارِعَةُ. Imam At-Thabari berkata:

 الساعةُ التي يقرعُ قلوبَ الناسِ هولُها، وعظيمُ ما ينزلُ بهم من البلاءِ عندَها، وذلك صبيحةٌ لا لَيْلَ بعدَها

“(Itu adalah) Kiamat yang kedahsyatannya menggetarkan hati manusia, dan betapa besarnya bencana yang menimpa mereka saat itu. Itulah pagi yang tidak ada lagi malam setelahnya!“.

Kemudian Allah mendahsyatkan perkaranya, dengan bertanya tentangnya melalui firman-Nya:

 مَا الْقَارِعَةُ

(Apakah hari Kiamat itu?): Yakni, betapa agungnya, betapa mengerikannya, dan betapa dahsyatnya!

Kemudian Allah menambah kedahsyatan dan kengerian tersebut dengan berfirman:

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

(Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?): Ini adalah pertanyaan yang bertujuan untuk mengagungkan dan membesarkan peristiwanya! Kiamat itu menggetarkan hati setelah menggetarkan pendengaran!

Allah berfirman:

 وَيَوْمَ يُنفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ

(Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang di bumi).

(يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ) (Pada hari itu manusia) karena saking panik dan ketakutan كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوث (seperti laron yang beterbangan): Yakni seperti belalang yang tersebar dan terpencar, berdesak-desakan satu sama lain! Imam Al-Qurthubi berkata:

 (فَأَوَّلُ حَالِهِم كَالفَرَاشِ لا وَجْهَ لَهُ، يَتَحَيَّرُ في كُلِّ وَجْهٍ، ثُمَّ يَكُونُونَ كَالجَرَادِ؛ لِأَنَّ لَهَا وَجْهًا تَقْصِدُهُ).

Keadaan awal mereka adalah seperti laron (kelekatu) yang tidak memiliki arah, kebingungan ke segala arah, kemudian mereka menjadi seperti belalang, karena belalang memiliki arah yang dituju.”

Al-Farash (laron/kelekatu) di dunia adalah: serangga berukuran kecil yang berjatuhan ke dalam api dan memang menuju ke arahnya, mereka menerjang lampu dan sejenisnya hingga terbakar! Dari sinilah sabda Nabi ﷺ:

 (مَثَلِي وَمَثَلُكُم: كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَ الجَنَادِبُ والفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا، وهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا، وأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ، وأَنْتُم تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي).

(“Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu belalang dan laron berjatuhan ke dalamnya, sementara ia berusaha mengusir mereka darinya. Dan aku memegang ikat pinggang kalian untuk menahan kalian dari api neraka, tetapi kalian justru melepaskan diri dari tanganku.”)

Imam An-Nawawi berkata:

 ومَقْصُودُ الحَدِيثِ: أَنَّهُ ﷺ شَبَّهَ تَسَاقُطَ الجَاهِلِينَ والمُخَالِفِينَ بِمَعَاصِيهِم وشَهَوَاتِهِم في نارِ الآخرة، وحِرْصِهِم على الوُقُوعِ في ذلكَ، مَعَ مَنْعِهِ إِيَّاهُمْ، وقَبْضِهِ على مواضِعِ المَنْعِ مِنْهُم؛ بِتَسَاقُطِ الفَرَاشِ في نَارِ الدُّنْيَا؛ لِهَوَاهُ وضَعْفِ تَمْيِيزِهِ، وكِلَاهُمَا حَرِيصٌ على هَلَاكِ نَفْسِهِ، سَاعٍ في ذَلِكَ لِجَهْلِهِ!.

Maksud dari hadis tersebut adalah bahwa Nabi mengumpamakan berjatuhannya orang-orang bodoh dan para pelanggar (syariat) melalui kemaksiatan dan syahwat mereka ke dalam api akhirat—serta besarnya hasrat mereka untuk terjerumus ke dalamnya, padahal beliau telah mencegah dan menahan mereka—sama seperti jatuhnya laron ke dalam api dunia karena hawa nafsunya dan lemahnya pertimbangannya. Keduanya sama-sama berhasrat menghancurkan dirinya sendiri dan berusaha ke arah sana karena kebodohannya!

Allah mengumpamakan makhluk dengan laron karena jumlah mereka yang sangat banyak, tersebar, dan dalam keadaan hina, atau karena mereka berjatuhan ke dalam Jahannam seperti laron berjatuhan ke dalam lampu! Sebagian ulama berkata:

في أَوَّلِ قِيَامِهِمْ مِنَ القُبُورِ كالفَرَاشِ المَبْثُوث؛ لأَنَّهُم يَجِيْئُونَ ويَذْهَبُونَ على غَيرِ نِظَام، ثُمَّ يَدْعُوْهُم الدَّاعِي فَيَتَوَجَّهُونَ إلى نَاحِيَةِ المَحْشَر؛ فَيَكُوْنُونَ حِيْنَئِذٍ كالجَرَادِ المُنْتَشِر؛ لِأَنَّ الجَرَادَ يَقْصِدُ إلى جِهَةٍ وَاحِدَة

“Manusia pada saat pertama kali bangkit dari kubur adalah seperti laron yang bertebaran, karena mereka mondar-mandir tanpa arah yang jelas. Kemudian seorang penyeru memanggil mereka, sehingga mereka pun menuju ke arah Padang Mahsyar; pada saat itulah mereka menjadi seperti belalang yang bertebaran, karena belalang memiliki satu arah tujuan.”

Ibnu Utsaimin berkata:

(لَوْ تَصَوَّرْتَ هَذَا المَشْهَد؛ لَتَصَوَّرْتَ أَمْرًا عَظِيمًا لا نَظِيرَ لَه، هَؤُلَاءِ العَالَم: مِنْ آدَمَ إلى أَنْ تَقُومَ الساعَة؛ كُلُّهُم يَخْرُجُونَ في آنٍ واحِد، في مَشَارِقِ الأَرْضِ ومَغَارِبِها!).

Jika Anda membayangkan pemandangan ini, Anda akan membayangkan suatu peristiwa agung yang tiada tandingannya. Seluruh penduduk alam ini: mulai dari zaman Nabi Adam hingga terjadinya Kiamat, semuanya keluar pada waktu yang bersamaan, di ufuk timur bumi maupun di baratnya!“.

Begitulah keadaan manusia pada Hari Kiamat. Adapun keadaan gunung-gunung yang kokoh dan keras; mereka akan menjadi ﴿كَالْعِهْنِ المَنْفُوشِ﴾ (seperti bulu yang dihambur-hamburkan): Yakni seperti wol atau kapas yang terurai, yang dapat beterbangan hanya karena embusan angin yang paling pelan sekalipun!

Ibnu Katsir berkata:

 (تَكُونُ الْجِبالُ كَالصُّوفِ المَنْفُوشِ الَّذِي قَدْ شَرَعَ في الذَّهَابِ والتَّمَزُّقِ).

Gunung-gunung menjadi seperti bulu yang terurai yang telah mulai musnah dan terkoyak.”

Gunung-gunung itu berterbangan ke sana kemari! Kemudian gunung-gunung itu menjadi katsiban mahila (tumpukan pasir yang beterbangan) (yakni: seperti gundukan pasir padahal sebelumnya berupa batu-batu keras yang menjulang tinggi), sebagaimana ia juga menjadi habaa’an munbatstsa, debu yang beterbangan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ

(Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan): Yakni menjadi debu yang bertebaran dan tercerai-berai ditiup angin, lalu ia lenyap dan tidak ada yang tersisa darinya sedikit pun!

Ibnu ‘Athiyyah berkata:

 (وكونُ الْجِبال ﴿كَالْعِهْنِ﴾ إنما هو وقت التفتيتِ قبلَ النَّسْف).

Dan keadaan gunung-gunung menjadi كَالْعِهْنِ (seperti bulu) itu terjadi pada saat proses penghancuran sebelum benar-benar diluluhlantakkan.”

Kemudian gunung-gunung itu benar-benar diluluhlantakkan hingga tidak ada yang tersisa darinya melainkan musnah! Allah ﷻ berfirman:

 ويسألونكَ عن الجبالِ فَقُلْ ينسفُهَا رَبِّي نسفًا فيذرها قاعًا صفصفًا لا ترى فيها عوجًا ولا أمتًا

(Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah: “Tuhanku akan menghancurkannya (di hari kiamat) sehancur-hancurnya, maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali, tidak ada sedikit pun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi.”)

Dan pada Hari Kiamat: Timbangan-timbangan amal akan ditegakkan, dan manusia terbagi menjadi orang-orang yang bahagia dan orang-orang yang celaka: (فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ) (Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya): Yakni kebaikannya lebih berat daripada keburukannya; (فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ) (maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan): Yakni kehidupan yang diridai oleh pemiliknya. Bagaimana mungkin ia tidak rida, padahal itu adalah kehidupan yang baik, sempurna, dan keadaan abadi yang penuh kebersihan, kelezatan, kenikmatan, dan kesenangan!

 لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ

(Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya).

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيم

* * * *

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ للهِ على إِحْسَانِه، والشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِه، وأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا الله، وأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، وآلِهِ وَأَصْحَابِه وأَتْبَاعِه.

Wahai hamba-hamba Allah: Allah berfirman: وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ (Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya): Yaitu karena ia tidak memiliki kebaikan yang sebanding dengan keburukannya; فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ (maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah): Yakni tempat tinggalnya adalah neraka, yang salah satu namanya adalah Al-Hawiyah.

Allah menamainya sebagai “ibu” (Ummuhu); karena orang kafir akan kembali dan berlindung kepadanya layaknya seorang anak yang kembali kepada ibunya. Ibu pada dasarnya adalah tempat bernaung dan berlindung bagi anak, namun neraka adalah “ibu” yang di dalamnya justru terdapat kebinasaan dan siksaan baginya! Maka seburuk-buruk ibu, dan seburuk-buruk pengasuh!

Ibnu Katsir berkata:

 (مَنْ خَفَّتْ موازِينُه: فالنارُ هِيَ أُمَّهُ الَّتِي يَرْجِعُ إِلَيْهَا، ولَا مَأْوَى لَهُ غَيْرَهَا)

Barangsiapa yang ringan timbangan amalnya: maka Neraka adalah ‘ibunya’ yang menjadi tempatnya kembali, dan tidak ada tempat bernaung baginya selain neraka.”

Neraka dinamakan Al-Hawiyah, karena penghuninya akan dijatuhkan (yahwiy) ke dalamnya dengan posisi kepala di bawah, dan dilemparkan ke dalam jurang yang sangat dalam! Nabi ﷺ bersabda:

 (إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ، أَبْعَدَ مَا بَيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ).

(“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu perkataan yang tidak ia teliti dampaknya, sehingga membuatnya terjatuh (yahwiy) ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari jarak antara timur dan barat”).

وَمَا أَدْرَاكَ مَاهِيَهْ

(Dan tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu?): Ini adalah pertanyaan untuk menambah kengerian dan kedahsyatan neraka ini, serta menjelaskan bahwa ia di luar dari apa yang biasa diketahui; sehingga ilmu manusia tidak akan sanggup meliputinya!

Kemudian Allah menafsirkannya dengan firman-Nya: ﴿نَارٌ حَامِيَةٌ﴾ (Yaitu api yang sangat panas): Yakni panasnya telah mencapai puncak dan batas maksimal! Panasnya melebihi panas api dunia sebanyak tujuh puluh kali lipat. Nabi ﷺ bersabda:

 (نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ؛ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ)، قَالُوا: (واللهِ إِنْ كَانَتْ لَكَافِيَةً، يا رَسُولَ اللهِ!)، قال: (فَإِنَّهَا فُضِّلَتْ عَلَيْهَا بِتِسْعَةٍ وَسِتِّينَ جُزْءًا، كُلُّهَا مِثْلُ حَرِّهَا). 

(“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian panasnya neraka Jahannam”).

Para sahabat berkata: (“Demi Allah, sungguh satu bagian itu saja sudah cukup (untuk menyiksa), wahai Rasulullah!”)

Beliau bersabda: (“Maka sesungguhnya api neraka itu dilebihkan dari api dunia sebanyak enam puluh sembilan bagian, yang masing-masing bagian sama panasnya dengan api dunia“)

************

* هذا وصَلُّوا وسَلِّموا على الرحمةِ المُهدَاة، والنعمةِ المُسداة: نبيِّكُم محمدٍرسولِ الله؛ فقد أَمَرَكُمُ بذلك ربُّكُم في مُحكَمِ تنزيلِه، فقال -وهو الصادقُ في قِيْله-: ﴿إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

* اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّم، وزِدْ وبارِكْ على نبيِّكَ محمدٍ ﷺ، اللَّهُمَّ احْشُرْنا في زُمْرَتِه، وأَدْخِلْنَا في شفاعتِه، وأَحْيِنَا على سُنَّتِه، وتوفَّنَا على مِلَّتِه، وأَوْرِثْنَا عِلْمَه، وأَوْرِدْنَا حوضَه، وأَسْقِنَا بكأسِه شَرْبَةً لا نظمأُ بعدَها أبدًا، وارْزُقْنَا مُرافَقتَهُ في الفردوسِ الأعلى.

* اللَّهُمَّ ارضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِين: أَبِي بَكرٍ، وعُمَرَ، وعُثمانَ، وعَلِيّ؛ وعن الصحابةِ والتابعِين، ومَن تَبِعَهُم بِإِحسَانٍ إلى يومِ الدِّين.

* اللَّهُمَّ لا تجعل الدنيا أكبرَ هَمِّنا، ولا مبلغَ عِلْمِنا، ولا إلى النارِ مصيرَنا.

* اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وآمِنْ رَوْعَاتِنَا، واخْتِمْ بالصالحاتِ أَعْمَالَنَا.

*اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسلامَ والمُسلِمِينَ، وأَذِلَّ الشِّركَ والمُشرِكِين، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ المَهمُومِينَ، ونَفِّسْ كَرْبَ المَكرُوبِين، واقْضِ الدَّينَ عَنِ المَدِينِين، واشْفِ مَرضَى المسلمين.

* اللَّهُمَّ آمِنَّا في أوطَانِنَا، وأصْلِحْ أئِمَّتَنَا ووُلَاةَ أُمُورِنَا، ووَفِّقْ (وَلِيَّ أَمرِنَا ووَلِيَّ عَهْدِهِ) لِمَا تُحِبُّ وتَرضَى، وخُذْ بِنَاصِيَتِهِما لِلبِرِّ والتَّقوَى.

* عِبَادَ الله: ﴿إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإحْسَانِ وَإِيتَآءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

* فَاذكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُم، واشكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُم ﴿ولَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *