Keterasingan dan Kampung yang Dirindukan

Keterasingan dan Kampung yang Dirindukan

Alhamdulillah bini’matihi tatimmu assolihat.

Apabila kita flashback dua puluh lima tahun yang lalu, tatkala para ikhwah yang sudah hijrah di kota pekanbaru dan sekitarnya terus berjuang agar bisa istiqomah di atas manhaj salaf, berjuang agar bisa selalu berada di atas ketaatan, berjalan di atas Alquran dan sunnah di bawah pemahaman para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Di kala itu masih sangat terasa keterasingan ketika seseorang berjalan di atas sunnah-sunnah Nabi shallahu alaihi wasallam dan pelakunya dicibirkan, diolok-olok dan dicacimaki. Pengajian sunnah dibubarkan. Di masa itu sangat asing rasanya bercelana cingkrang, sangat asing bagi wanita mengenakan jilbab panjang yang menutup auratnya. Tidak banyak masjid yang dibuka untuk sholat berjamaah, seakan masa itu laki-laki tidak mengenal sholat berjamaah di mesjid, wanita seakan tidak mengenal jilbab syar’i yang menutup auratnya, sehingga apabila ada orang yang berusaha mengamalkan agama dan sunnah nabi sering kali dilabeli dengan teroris, islam murni dan lain sebagainya. Begitulah gambaran kecil keterasingan yang harus dilalui oleh para ikhwah yang sudah hijrah masa itu, maka benarlah yang dikatakan nabi kita yang mulia alaihisolatu wassalam yang berbunyi :

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم أنه قال ” بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ بطوبي للغرباء قيل : يارسول الله من الغرباء؟ قال الذين يصلحون إذا فسد الناس (رواه مسلم )

Artinya: Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagai mana awalnya, maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing, para sahabat bertanya ya Rasulallah shallahi alaihi wasallam siapakah mereka yang dianggap asing? Rasulullah menjawab yaitu orang-orang yang tetap istiqomah dikala manusia sudah rusak (HR.muslim)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ (رواه الترمذي)

Artinya: Dari Anas bin Malik dia berkata: telah berkata Rasulullah shallahu alaihi wasallam: Akan datang kepada manusia suatu zaman, yaitu orang-orang yang sabar di atas agamanya maka mereka bagaikan menggenggam bara api. (HR.tirmizi)

Keterasingan sangat terasa oleh para ikhwah yang istiqomah menjalankan agama dan sunnah nabi Muhammad shallallhu alaihi wasallam, namun mereka tetap kokoh di atasnya

Kita tidak mengatakan bahwa setelah dua puluh lima tahun berlalu, keterasingan pun sirna, olok-olok akan sunnah telah tiada “Tidak” bahkan ke-bid’ahan dan pelakunya sebagai lawan dari sunnah akan terus ada. selayaknya kemaksiatan dan pelakunya  juga terus akan terus ada. Ahlus sunnah yang benar-benar berada di atas Sunnah nabi shallallhu alaihi wasallam jumlahnya tidaklah banyak dibandingkan besarnya jumlah ahlu bid’ah wal ahwa’ (Pengikut bid’ah dan hawa nafsu)

Di tengah keterasingan para ikhwah yang Istiqomah di atas Al-Qur’an dan Sunnah di bawah pemahaman para ulama salaf, tidak sedikit dari mereka yang menginginkan sebuah lingkungan yang Islami. Lingkungan yang jauh dari hiruk pikuk dentuman musik tetangga yang pesta, lingkungan hidupnya sunnah nabi shallahu alaihi wasallam di dalamnya, lingkungan tertutupnya aurat para wanita, lingkungan tegaknya sholat berjamaah, lingkungan yang selalu terdengar lantunan al-quran dibaca, lingkungan yang terkontrol dari kebebasan pemuda dan pemudinya, begitulah gambaran yang dirindukan oleh para ikhwah yang Istiqomah.

Maka dengan cita-cita yang mulia dan keinginan yang membara itu, mulailah para ikhwah di pekanbaru dan sekitarnya merancang program perumahan islami dengan konsep yang berbeda-beda. Namun qoddarallahu masyaa fa’al, belum satupun yang berhasil untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan yang mulia itu, kecuali hunian atau perkampungan yang diberi nama “DAR TOYBAH”, nama perumahan itu sendiri,terinspirasi dari salah satu nama kota Madinah yaitu AT-TOYBAH tempat hijrahnya Nabi kita yang mulia ‘alahis shalatu wassalam, kemudian dipatenkan menjadi DAR TOYBAH yang artinya : “TEMPAT TINGGAL YANG BAIK” sebuah konsep perkampungan yang menyatu dengan lembaga Pendidikan islam yaitu pesantren.

Pada pertengahan tahun 2011 mulailah cita-cita yang mulia itu direalisasikan dalam bentuk menjual tanah kavlingan rumah kepada para ikhwah. Dan Alhamdulillah tidak perlu menunggu lama, hanya hitungan beberapa bulan saja kavlingan tanah itu pun terjual kepada 800 kepala keluarga, suatu pencapaian yang luar biasa.

Kemudian, pada awal tahun 2012 dimualailah pembangunan PESANTREN UMAR bin KHATTAB RIAU di tanah yang terbentang luas itu, tepatnya di jalan Garuda sakti km 9, desa Karya Indah, kecamatan Tapung, kabupaten Kampar, Riau, Indonesia. Berjarak lebih kurang enam kilo meter dari batas kota Pekanbaru. Di kala itu tanah pesantren dan kaplingan itu hanyalah semak belukar bagaikan hutan belantara tanpa penghuni. Namun, alhamdulillah saat ini, berkat Taufiq dari Allah subhanahu wataala tidak kurang dari 1000 orang santri dan warga sholat berjamaah di masjid setiap waktunya, kampung itu telah terwujud indah, dengan lingkungannya yang asri.

Semua jenjang pendidikan di area ini sengaja diatur berjarak antara satu dan lainnya, lalu dikelilingi dengan kaplingan para ikhwah disekitarnya, agar ramai dan hidup suasananya. Pesantren putra sudah berdiri kokoh di atas lahan yang luasnya 7 hektar, dengan asrama yang sanggup menampung 1.500 santri. Kemudian di dalamnya terdapat kelas yang kokoh dengan konsep pembangunan yang moderen, ada mesjid yang  cantik dan besar yang mampu menampung 3.500 jamaah. Masjid ini diberi nama “MUS’AB BIN UMAIR” yang mana masjid ini merupakan sumbangan dari salah seorang donator tunggal yang menjadi fasilitas untuk setiap kegiatan santri pondok pesantren Umar bin Khattab Riau dan tempat sholat warga Dar Ath-Thoybah.

Kemudian tidak jauh dari pesantren putra ada pesantren putri yang berjarak 400 meter dari pesantren putra. Pesantren ini berdiri kokoh di atas lahan seluas 2 hektar dengan area yang dipagar tembok dan dijaga security selama 24 jam. Adapun kapasitas asrama dan kelasnya bisa menampung 1000 orang santriwati. Di dalamnya juga terdapat musolla yang luas dan mini market yang memadai serta warung makanan yang menjual bermacam kuliner yang sehat.

Kemudian, berjarak 700 meter dari pesantren putra, terdapat pula tahfidz quran putra setingkat SD dengan luas tanah lebih kurang 5000 m² kemudian tepat di samping tahfidz tersebut terdapat dua hektar tanah untuk persiapan sekolah tinggi nantinya insya Allah ta’ala.

Tepat dis ebelah dinding pagar pesantren putri, terdapat pula Raudatul Athfal (RA)  atau yang lebih dikenal dengan sebutan Taman Kanak-kanak (TK) yang dikelola oleh salah seorang warga Dar At-Thoybah. Begitulah gambaran jenjang pendidikan yang berada dilingkungan hunian dar toybah ini, Maka tidak heran jika di setiap pagi hari kita akan melihat anak-anak pergi berseliweran ke sekolahnya dengan berjalan kaki, sepeda, ataupun yang diantar oleh orang tuanya.

Kemudian di sini juga terdapat taman ceria dengan kolam renangnya, ada perkebunan pesantren dan peternakannya, ada penginapan Ath-thoybah untuk persinggahan wali santrinya, ada security yang bertugas menjaga keamanan kampung ini, ada klinik tempat berobatnya, serta ada juga lahan perkuburan warga untuk akhir hayatnya dan tentunya masih banyak lagi yang tidak dapat penulis sebutkan satu per-satu secara detail.

Dan di akhir tulisan ini marilah kita memohon kepada Allah subhanahu wataala semoga Dia selalu menjaga pesantren yang kita cintai ini dan melimpahkan keberkahan kepada kita semua dan kampung Ath-Thoybah ini. Amiin.

Ditulis oleh: Ustadz Abu Ja’far di Dar Ath-Thoybah

Artikel pontrenumarriau.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *