VISi dan MISI SEORANG AYAH

VISi dan MISI SEORANG AYAH

Seorang ayah bagaikan nahkoda dalam bahtera rumah tangga, dialah penentu ke mana arah bahtera itu pergi, ke mana rute pelayaran yang harus dilalui agar bisa sampai ke tujuan. Dia bertanggung jawab penuh atas keamanan dan keselamatan penumpangnya, dia juga harus bisa mengambil keputusan yang tepat ketika keadaan darurat.

Begitulah seharusnya seorang ayah, sebab dia adalah pemimpin sejati, dialah yang akan menentukan ke mana arah bahtera rumah tangga itu berjalan. Apakah dia arahkan hanya kepada tujuan duniawi dan melupakan semua perkara ukhrowi (Perkara akhirat) atau dia arahkan ke tujuan ukhrowi dan tidak melupakan bagian duniawi. Semua keputusan ada di tangannya. Di tangan sosok yang bernama “AYAH”. Sosok yang akan bertanggung jawab atas apa yang dia putuskan terhadap rumah tangganya karena dialah nahkoda utamanya, rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda :

وعن ابن عمَر رضي اللَّه عنهما قال: سَمِعتُ رَسُولَ الله ﷺ يقول: كُلُّكُمْ راعٍ، وكُلُّكُمْ مسئولٌ عنْ رعِيَّتِهِ، …… متفقٌ عَلَيهِ

Artinya: Dari Ibnu Umar rodiyallahu anhuma dia berkata,”aku telah mendengar Rasulullah sallahu alaihi wasallam bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya………..”(HR. Bukhari dan Muslim)

Ayah adalah pemimpin utama dalam sebuah rumah tangga, maka ia hendaknya mempunyai visi dan misi di dalam kepemimpinannya. Rumah tangga bagaikan sebuah perusahaan besar bahkan mungkin saja perusahaan paling besar di dunia yang dipimpin oleh seseorang yang bernama AYAH. Dikarenakan besar dan rumitnya problematika yang ada di dalamnya banyak manusia gagal di dalam kepemimpinannya. Oleh sebab itu seorang Ayah yang mukmin hendaknya selalu ingat dengan visi utamanya yaitu: “Menjadi pelopor utama terjaganya keluarga dan dirinya dari api neraka dan masuk bersama kedalam surga”

Inilah visi utama seorang ayah yang mukmin di dalam menjalankan roda kepemimpinannya, Allah subhanahu wataala telah menjelaskan visi ini didalam alquran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, (Surat At-Tahrim: ayat 6)

Maka untuk menyukseskan visi yang sangat berat ini, seorang ayah hendaknya menjalankan misi sebagai berikut:

  • Menjadi ayah yang peduli akan aqidah anak dan keluarganya

Aqidah yang benar adalah pokok utama untuk bisa masuk surga dan terhindar dari api neraka. Perkara inilah yang sering diingatkan oleh para nabi dan rasul alaihimus salam kepada manusia dan kepada anak dan keluarganya secara khusus:

Allah berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ ( إبراهيم: 35)

Artinya:” Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya rabku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. “(Surat: Ibrahim: 35)

Allah subhanahu wataala juga berfirman :

وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ (132) أَمْ كُنتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِن بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَٰهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (سورة البقرة 132 – 133)

Artinya: “Dan Ibrahim telah mewasiatkan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub: “‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam,Atau apakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku (Setelah aku meninggal)?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (Surat Al-Baqarah: 132 – 133)

Dalam ayat yang mulia ini nabi Ibrohim dan ya’qub berdo’a dan berwasiat supaya Allah subhanahu wataala menjaga anak keturunannya untuk tetap diatas keimanan dan dijauhkan dari kesyirikan.

  • Selalu memerintahkan dan mengingatkan anak dan keluarga untuk shalat

Shalat merupakan rukun Islam yang harus selalu diingatkan kepada anak dan keluarga, sebagaimana nabi kita yang mulia alaihis shalatu wassalam diperintahkan oleh Allah subhanahu wataala untuk memerintahkan keluarganya sholat. Allah Ta’ala berfirman:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ ( سورة طه 132)

Artinya: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Surat Thaha:132)

Luqman juga berwasiat kepada anaknya untuk mendirikan sholat sebagaimana dalam firman Allah yang berbunyi:

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Surat Luqman: 17)

Bahkan nabi Ismail dipuji oleh Allah subhanahu wataala karna dia selalu mengingatkan keluarganya untuk sholat

واذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَّبِيًّا , وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا

Artinya: “Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Ismail di dalam Al Kitab (Al-Qur’an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridhai di sisi Tuhannya. (Surat Maryam: 54 – 55)”

Di dalam salah satu ayat al-quran yang lain menjelaskan bahwasanya, nabi ibrahim senantiasa mendo’akan keluarganya untuk selalu mendirikan sholat

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

Artinya: “Ya rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat.” (Surat Ibrahim: 37)

Ayat-ayat yang mulia di atas menunjukkan betapa pentingnya shalat dan mengingatkan keluarga untuk sholat, dan terus mengingatkan mereka jangan bosan, karna awal permulaan dari hancurnya generasi Islam ketika mereka tidak lagi peduli akan shalatnya, dan binasalah anak-anak kaum muslimin ketika seorang ayah acuh dengan shalat anaknya atau bahkan takut mengingatkan anaknya untuk shalat. Allah berfirman menceritakan generasi-generasi yang buruk karna mereka menyia-nyiakan shalat

فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Artinya: Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. (Surat Maryam: 59)

  • Mengajarkan akhlaq dan adab yang baik kepada anak.

Adab dan akhlaq adalah hal yang selalu harus diajarkan dan diingatkan kepada anak, karna dengan adab dan akhlaklah dia akan bergaul bersama manusia dengan baik. Ajarkan kepadanya bagaimana bertutur kata yang baik, ajarkan dia bagaimana bermuamalah dengan orang yang lebih tua atau yang lebih kecil darinya, ingatkan dia untuk tidak berbohong dalam berkata dan ajarkan dia akhlak-akhlak mulia lainnya.

عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلي الله عليه وسلم ” لِأَنْ يُؤدِّبَ الرجُلُ ولدَهُ، خيرٌ لهُ منْ أنْ يتصدقَ بصاعٍ ( أخرجه الترمذي)

Artinya: “Seseorang yang mendidik anaknya lebih baik baginya daripada dia bersedekah dengan satu sha’ (HR. Tirmidzi)

عن انس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول” أكرموا أولادكم وأحسنوا أدبهم ( رواه ابن ماجه)

Artinya: “Muliakanlah anak-anakmu dan ajarkanlah mereka dengan baik.”(HR. Ibnu Majah)

Inilah tiga misi besar yang harus diusahakan oleh seorang ayah, walaupun sebenarnya masih banyak misi yang lain apabila kita rinci sangat banyak hal yang harus diajarkan kepada anak dan keluarga. Namun menurut penulis tiga misi ini adalah pokok utama yang harus dijalankan oleh seorang sosok yang bernama ayah, maka berjuanglah untuk bisa sukses dalam menggapai visi dan misi ini dengan tetap menyerahkan hasil akhir kepada Allah. Kita di dunia hanya dituntut untuk berusaha yang terbaik namun hasil dari usaha tersebut, kita serahkan kepada Allah subhanahu wataala. Kita tidak pernah tahu anak mana yang akan memberikan manfaat kepada kita dan mana yang akan memberikan mudhorat (Hal buruk) setelah kita tiada. Dan yang terpenting mari kita ajarkan anak kita agama yang agung ini.

Mari kita memohon kepada Allah semoga dia memberikan kepada kita Taufiq untuk bisa Istiqomah di atas agama dan sunnah, dan memberikan kita anak keturunan yang Shalih dan Shalihah.

Ditulis oleh: Ustadz Abu Ja’far di Dar Thoybah.

Artikel: pontrenumarriau.com

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *